# Tags
Data Powered by Bloomberg
EUR - IDR: Loading...
SGD - IDR: Loading...
AUD - IDR: Loading...
HKD - IDR: Loading...
EUR - USD: Loading...
#Press

Perjuangan Maesaroh BPJS Anak, Dua Hari Urus Aktivasi

Perjuangan Maesaroh BPJS Anak: Dua Hari Bolak-balik ke Dinsos demi Pengobatan Epilepsi

Bandung — Perjuangan Maesaroh BPJS anak menjadi perhatian publik setelah perempuan asal Kota Bandung itu harus bolak-balik ke kantor Dinas Sosial selama dua hari untuk mengaktifkan kembali kepesertaan BPJS Kesehatan anaknya yang menderita epilepsi. Upaya tersebut dilakukan di tengah penonaktifan massal BPJS Penerima Bantuan Iuran (PBI) yang berdampak pada ribuan warga.

Maesaroh mengaku baru mengetahui status BPJS anaknya nonaktif ketika hendak berobat. Padahal, anaknya membutuhkan pengobatan rutin dan kontrol medis secara berkala. Kondisi itu membuatnya harus segera mengurus reaktivasi BPJS agar pengobatan tidak terhenti.


BPJS Anak Tiba-tiba Nonaktif

Masalah bermula ketika Maesaroh mendapati kepesertaan BPJS Kesehatan anaknya tidak dapat digunakan. Setelah ditelusuri, status BPJS tersebut dinonaktifkan akibat pemutakhiran data PBI yang dilakukan pemerintah.

Penonaktifan itu tidak disertai pemberitahuan langsung kepada keluarga. Akibatnya, Maesaroh baru mengetahui persoalan tersebut saat membutuhkan layanan kesehatan untuk anaknya.

Situasi ini menempatkan Maesaroh pada posisi sulit. Di satu sisi, anaknya harus segera mendapatkan pengobatan. Di sisi lain, proses administrasi BPJS membutuhkan waktu dan tahapan yang tidak singkat.


Dua Hari Bolak-balik ke Dinas Sosial

Dalam upaya mengaktifkan kembali BPJS, Maesaroh harus mendatangi kantor Dinas Sosial Kota Bandung. Ia datang membawa sejumlah dokumen, mulai dari Kartu Keluarga, KTP, hingga surat keterangan tidak mampu.

Namun, proses tersebut tidak selesai dalam satu hari. Petugas meminta verifikasi lanjutan dan kelengkapan data tambahan. Akibatnya, Maesaroh harus kembali lagi keesokan harinya untuk melanjutkan proses administrasi.

Selama dua hari itu, Maesaroh bolak-balik mengurus BPJS sambil tetap memikirkan kondisi kesehatan anaknya. Ia berharap proses reaktivasi dapat segera diselesaikan agar pengobatan tidak tertunda.


Epilepsi dan Kebutuhan Pengobatan Rutin

Anak Maesaroh diketahui menderita epilepsi, sebuah gangguan saraf yang ditandai dengan kejang berulang. Penyakit ini memerlukan penanganan medis jangka panjang dan konsumsi obat secara teratur.

Tanpa BPJS aktif, biaya pengobatan epilepsi dapat menjadi beban berat bagi keluarga. Kontrol rutin ke rumah sakit dan obat harian merupakan kebutuhan yang tidak bisa ditunda.

Karena itu, perjuangan Maesaroh BPJS anak bukan semata persoalan administrasi. Bagi Maesaroh, reaktivasi BPJS adalah upaya menjaga keselamatan dan kualitas hidup anaknya.

Baca Juga: Kisah Perjuangan Maesaroh Aktifkan BPJS Anak Penderita Epilepsi, Dua Hari Bolak-balik Dinsos
 


Dampak Penonaktifan BPJS PBI

Kasus yang dialami Maesaroh bukanlah satu-satunya. Di Kota Bandung, puluhan ribu warga terdampak penonaktifan BPJS PBI akibat pembaruan Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS).

Pemerintah melakukan pemutakhiran data untuk memastikan bantuan tepat sasaran. Namun, dalam pelaksanaannya, banyak warga yang masih tergolong tidak mampu justru kehilangan akses layanan kesehatan sementara waktu.

Baca juga: Bansos Jelang Lebaran 2026 Disiapkan Pemerintah

Kondisi ini memicu keluhan masyarakat, terutama mereka yang memiliki anggota keluarga dengan penyakit kronis dan membutuhkan layanan kesehatan berkelanjutan.


Respons Dinas Sosial dan Pemerintah Daerah

Dinas Sosial Kota Bandung menyatakan proses reaktivasi BPJS PBI tetap dibuka bagi warga yang memenuhi syarat. Masyarakat diminta datang langsung ke kantor kelurahan atau Dinsos untuk melakukan verifikasi ulang data.

Pemerintah daerah juga menegaskan bahwa warga yang sedang mengurus reaktivasi BPJS tetap dapat memperoleh layanan kesehatan melalui skema yang tersedia. Langkah ini diambil agar tidak ada warga yang kehilangan hak atas layanan medis.

Meski demikian, proses administratif yang harus dilalui warga tetap menjadi tantangan, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan waktu dan kondisi kesehatan tertentu.


Harapan dari Kisah Maesaroh

Kisah perjuangan Maesaroh BPJS anak mencerminkan realitas yang dihadapi banyak keluarga di tengah perubahan kebijakan data bantuan sosial. Di satu sisi, pemutakhiran data diperlukan. Namun, di sisi lain, mekanisme transisi perlu dibuat lebih ramah bagi warga rentan.

Maesaroh berharap pengalamannya bisa menjadi perhatian pemerintah agar proses administrasi BPJS, khususnya bagi pasien dengan penyakit kronis, dapat dipermudah.

Ia juga berharap tidak ada lagi orangtua yang harus memilih antara mengurus dokumen atau memastikan anaknya mendapatkan pengobatan tepat waktu.


Pentingnya Akses Kesehatan Berkelanjutan

Program Jaminan Kesehatan Nasional dirancang untuk menjamin akses kesehatan bagi seluruh warga, terutama kelompok rentan. Karena itu, keberlanjutan kepesertaan BPJS menjadi hal krusial.

Kasus seperti yang dialami Maesaroh menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan tidak hanya soal data, tetapi juga menyangkut nyawa dan masa depan pasien.

Akses layanan kesehatan yang terputus, meski sementara, dapat berdampak besar bagi keluarga dengan anggota yang membutuhkan perawatan intensif.


Kesimpulan

Perjuangan Maesaroh mengaktifkan kembali BPJS anaknya menjadi gambaran nyata tantangan layanan kesehatan di tingkat masyarakat. Dua hari bolak-balik ke Dinsos bukan sekadar urusan administrasi, melainkan perjuangan seorang ibu demi kesehatan anaknya.

Ke depan, kisah ini menjadi pengingat pentingnya kebijakan kesehatan yang tidak hanya akurat secara data, tetapi juga manusiawi dalam pelaksanaannya.

Perjuangan Maesaroh BPJS Anak, Dua Hari Urus Aktivasi

Roy Suryo Cs Tunjukkan Salinan Ijazah Jokowi

Perjuangan Maesaroh BPJS Anak, Dua Hari Urus Aktivasi

Perjuangan Maesaroh BPJS Anak, Dua Hari Urus